category : strategi banner

Strategi

Semangat yang dibangun dari UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa adalah  mendorong terbangunnya Desa yang mandiri, demokratis dan sejahtera  Regulasi itu memadukan koreksi atas perlakukan desa masa lalu dan memproyeksi ke masa depan.


Substansi pengaturannya harus diturunkan dalam PP, peraturan menteri, perda dan seterusnya, dimana keharusan agar masing-masing regulasi dan kebijakan itu senafas, untuk menjawab problem desa dan bukan menciptakan masalah baru.

Konsekuensinya:

Perspektif, metode, praktik kerja dan SDM dituntut  untuk berubah, bangkit dan mampu mentransformasi “modalitas yang dimiliki ” dengan memanfaatkan struktur kesempatan ini untuk melakukan pembaharuan desa Aktor negara (dalam hal ini pemerintah di semua lini) dan masyarakat sipil, serta pelaku-pelaku ekonomi berinteraksi menerjemahkan semangat  pembaharuan itu agar lebih bermakna secara praksis, sehingga UU Desa mampu mencapai tujuan 

Catatan :
Sejauh pengamatan dan pengalaman praksis selama ini, peran pendamping, diantaranya para fasilitator begitu berarti dalam membantu agenda pemberdayaan, dengan segala masalah, pendekatan, proses dan hasilnya adalah plus minus. Pelibatan mereka berangkat dari aktivis Lembaga Swadaya, akademisi, pekerja sosial, maupun kelompok lain, paling tidak menstimulan gerak nadi  komunitas.  Agar ketika menyemai bibit keberdayaan sebagai pilar warga yang aktif dan kritis berbagai kasus dan agenda lokal untuk beragam sektor bisa terpecahkan. 

Misalnya fasilitator Pendamping, kita akui telah menciptakan pendekatan baru untuk mendorong partisipasi warga yang mengoreksi pendekatan lama dapat dicatat dengan baik, untuk mengubah dominasi ruang dan akses elit lokal dalam keputusan pembangunan. Dalam beberapa hal penguatan partisipasi warga dalam membangun konsensus untuk perubahan kebijakan strategis lokal Akan tetapi, peran mereka (fasilitator) itu masih “terjebak dalam mainstream teknokratisasi dan administrative” sehingga mengurangi bobot substansi peran pendampingan itu sendiri (ideologi  emansipasi) secara praksis kadang ini tidak disadari Subjek aktif.


Diantara tantangan penting yang perlu dijawab oleh pendamping berkaitan UU Desa, untuk menciptakan subjek aktif bagi warga komunitas menjadi kunci kebangkitan warga. Subjek aktif berarti, bahwa pendampingan pada masyarakat dipahami sebagai kerja “sementara” sampai subjek yang didampangi mampu “dewasa” dan akfif mandiri.


Desa-desa di Indonesia punya keragaman kapasitas, majemuk dari karakter, serta kondisi ekonomi politik yang menggambarkan “fragmentasi dan gap” satu sama lain. Ada desa-desa yang maju, mandiri dan kuat dalam proses pembangunan namun masih banyak juga yang mengalami nasib “terbelakang” dan tidak berdaya. baik karena dampak kebijakan ekonomi politik (struktural), juga karena 
bersemayam akar kultural dalam rentang sejarah lama Situasi inilah yang kemudian menjadi titik tolak perubahan pendampingan!


Dari dasar inilah kemudian mendorong kami meyakini bahwa: tidak mungkin menggunakan pendekatan dalam pendampingan yang sama atau generik. Tetapi pendampingan adalah perspektif yang unik, kontekstual dan organic, kami juga tidak mungkin membuat rumus tunggal dan umum. Pendampingan dalam “perspektif organik” mengandung maksud, bahwa kemandirian desa akan tumbuh jika mereka diyakinkan kapasitas diri, dan aktor-aktor komunitas itulah yang bisa menjadi agen pendamping otentik. 

Cara pandang ini maknanya adalah masyarakat akan bangkit oleh dirinya; agen-agen di masyarakat akan mampu mendampingi dan mempengaruhi struktur sosial di komunitasnya masing-masing Itulah pentingnya: spirit relawan warga yang ditransformasikan menjadi fasilitator dan pendamping warganya.



Pertanyaannya bagaimana memulai agar agen, relawan dan fasilitator otentik lahir dan tumbuh secara organik dari komunitas? 
Berikut adalah Agenda strategi ke depan.
1. Difinisikan ulang konsep kemandirian, subjek, orientasi, perspektif dan pendekatan yang bertumpu kekuatan lokal secara otentik 
2. Desa harus dibebaskan dari politik dominasi negara, hegemoni pasar 
dan oligarkhi elit lokal komunitas 
3. Agar mampu membaca dan menganalisis problem, kapasitas dan 
orientasi perubahan maka hindari jebakan kolonisasi pendampingan; 
mengubah pendekatan pendampingan “corak kimiawi menjadi organik” 
4. Pendekatan ini butuh waktu, dalam konteks implementasi UU Desa, 
membutuhkan masa transisi menuju “pemberdayaan yang berakar dari 
dalam” dan stimulasi dari luar jangan sampai menjadi “racun baru” 
tetapi harus menjadi “vitamin alternatif” 
5. Dalam jangka pendek debat soal ideologi yang diturunkan kedalam 
perspektif dan pendekatan pendampingan harus dilakukan; tidak sekadar 
“berkutat pada instrumental dan teknokrasi” 
6. Fasilitator adalah subjek dalam pemberdayaan; namun pendampingan 
organik justru menempatkan masyarakat menjadi subjek kunci: 
MENGAKTIVASI kesadaran kritis secara otentik.

author : root

created : 25-Jun-2019


PT DINUSA

Adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang informasi dan teknologi yang fokus geraknya di titik beratkan kepada tata pembaharuan wawasan

JALAN AHMAD YANI NO 09
DESA : WINONG
KECAMATAN : PATI
KABUPATEN : PATI
PROVINSI : JAWA TENGAH
KODEPOS : 59112

medianusaperkasa@gmail.com

081222504105

Your message has been sent. Thank you!